El Nino 2026: Tiga Kejanggalan yang Membuat Peneliti BRIN Meragukan Klaim

El Nino 2026: Tiga Kejanggalan yang Membuat Peneliti BRIN Meragukan Klaim

Published:

El Nino 2026: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

El Nino 2026 menjadi topik hangat dalam beberapa minggu terakhir, terutama setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan pembaruan mengenai kondisi iklim global. Laporan terbaru menunjukkan adanya peluang sebesar 80 persen terjadinya fenomena El Nino selama periode Juni–Agustus 2026. Namun, Eddy Hermawan, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tidak langsung percaya.

"Saya menemukan beberapa kejanggalan yang menyebabkan saya berpikir dua kali. Waspada okelah. Tapi apakah ini betul-betul Super El Nino—ternyata belum ada kesepakatan," kata Eddy kepada Kompas.com. Ia melakukan apa yang ia sebut "uji forensik"—menelusuri dan membandingkan data dari berbagai lembaga iklim dunia, bukan hanya satu sumber.

Kejanggalan Pertama: Tahun Genap

Dua episode El Nino yang layak disebut "Godzilla" dalam sejarah modern—yakni 1997-1998 dan 2015-2016—keduanya berawal di tahun ganjil. "Kalau kita perhatikan dua kejadian itu, berawalnya dari tahun-tahun ganjil. Ini kan tahun 2026—tahun genap. Itu salah satu yang mematahkan kemungkinan itu," kata Eddy. Ini menunjukkan bahwa pola El Nino biasanya berawal di tahun ganjil, bukan tahun genap seperti 2026.

Kejanggalan Kedua: Jarak Waktu

Argumen kedua menyangkut jarak waktu. Indonesia baru saja melewati episode El Nino pada 2023 yang sudah tergolong ekstrem. Secara historis, kejadian El Nino yang benar-benar dahsyat membutuhkan jeda panjang untuk "mengisi ulang" energinya. Dari El Nino ekstrem 1997-1998 ke episode serupa berikutnya di 2015-2016, dibutuhkan waktu 18 tahun. "Artinya kejadian ekstrem itu berulang di antara 15 sampai 20 tahun. Kalau ada kejadian ekstrem 2023, di 2026 masa hanya butuh waktu 3 tahun? Itu kecil sekali kemungkinannya," ujar Eddy.

Kejanggalan Ketiga: Osilasi Dinamika Nino 3.4

Osilasi dinamika Nino 3.4 sendiri rata-rata berlangsung dalam siklus 4 hingga 7 tahun. Tiga tahun jelas terlalu pendek untuk skenario pengulangan kejadian ekstrem. Eddy menjelaskan bahwa pada El Nino 1997 maupun 2015, kolom air panas yang bergerak dari Pasifik diimbangi oleh kemunculan kolom air dingin di kawasan timur Indonesia—sebuah mekanisme fisik yang justru memperkuat dinamika El Nino secara keseluruhan.

Dengan demikian, Eddy Hermawan meragukan klaim El Nino 2026 yang dikatakan akan terjadi dalam waktu dekat. Ia berharap masyarakat tidak terlalu panik dan menunggu informasi yang lebih akurat sebelum membuat keputusan. "Saya tidak ingin membuat orang panik, tapi saya ingin membuat orang waspada," kata Eddy.

Kesimpulan

El Nino 2026 masih menjadi topik perdebatan di kalangan peneliti dan ahli iklim. Dengan adanya tiga kejanggalan yang ditemukan oleh Eddy Hermawan, masyarakat perlu lebih waspada dan tidak terlalu panik. Informasi yang lebih akurat dan terpercaya perlu diungkapkan sebelum membuat keputusan. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih siap menghadapi fenomena El Nino yang mungkin terjadi di masa depan.