
El Nino: Ancaman Cuaca Ekstrem yang Menghantui Dunia
Peringatan dari PBB
Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan tentang peningkatan risiko cuaca ekstrem dalam beberapa minggu dan bulan mendatang akibat munculnya pola cuaca El Nino. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa terdapat 80% kemungkinan terjadi fenomena El Nino, yang ditandai suhu permukaan laut tak normal di Samudra Pasifik tengah dan timur, antara Juni dan Agustus.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, "Sainsnya sudah jelas: El Nino akan segera tiba di depan mata dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90%. Dunia harus menyikapinya sebagai peringatan iklim yang mendesak." Peringatan ini sangat penting, karena El Nino dapat memicu peningkatan curah hujan di beberapa wilayah, serta kekeringan di negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Dampak El Nino
El Nino adalah fenomena alam yang umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Menurut WMO, El Nino dapat memicu peningkatan curah hujan di selatan Amerika Selatan dan Amerika Serikat, sebagian wilayah Tanduk Afrika dan Asia Tengah. Namun, fenomena ini juga dapat menyebabkan kekeringan di negara-negara seperti Indonesia, Australia, Amerika Tengah, dan sebagian Asia Selatan.
WMO memprediksi bahwa fenomena El Nino tahun ini setidaknya berada pada tingkat sedang dan kemungkinan besar kuat. "Dampaknya akan menghantam lebih keras, menyebar lebih jauh, dan melintasi batas-batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan," ujar Guterres. Tren ini dapat memicu kebakaran hutan sangat parah, menurut peneliti Imperial College London dan jaringan ilmuwan iklim World Weather Attribution.
Antisipasi dan Dampak
Uni Eropa berencana mengerahkan banyak petugas pemadam kebakaran dan pesawat ke area risiko tinggi seperti Yunani, Italia, Prancis, Spanyol, dan Portugal. El Nino terakhir tahun 2023 hingga 2024 berkontribusi menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyebut risiko lain terkait dengan panas ekstrem meliputi penyebaran penyakit serta berkurangnya pasokan makanan dan air.
"Masyarakat yang sudah kesulitan akan semakin terdesak melampaui batas kemampuan," tambahnya. Bagi konsumen yang tengah menghadapi inflasi akibat perang AS-Israel terhadap Iran, harga pangan mungkin makin melonjak karena El Nino. Hein Schumacher, CEO Barry Callebaut, salah satu perusahaan pengolah kakao terbesar dunia, memperingatkan panen di Ekuador dan Afrika Barat, yang menyumbang 60% produksi global, dapat turun.
Peralihan ke Energi Terbarukan
Guterres menilai tren iklim ini merupakan pengingat perlunya peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. "Kondisi El Nino akan menyiramkan bensin ke kobaran api dunia yang terus memanas," tegasnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi dampak El Nino dan menghadapi perubahan iklim yang terus berlanjut.