Super El Nino 2026: Fenomena Alam yang Semakin Mengancam

Super El Nino 2026: Fenomena Alam yang Semakin Mengancam

Published:

Intensitas El Nino Meningkat

Super El Nino 2026 diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa pekan ke depan. Prof. Dr. Erma Yulihastin, pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebut bahwa El Nino tahun ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan peristiwa serupa pada 2023 dan bahkan diprediksi mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026.

Menurut Erma, "Akhirnya, lembaga resmi cuaca ekstrem Eropa telah menyebut Super El Nino dan konsekuensi perubahan sirkulasi atmosfer yang dipicunya." Ia juga menambahkan bahwa intensitas El Nino terus meningkat, dengan indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius, yang menandakan status El Nino kuat dan bahkan telah melampaui puncak El Nino 2023.

Dampak El Nino pada Cuaca

Erma menjelaskan bahwa penguatan El Nino akan memicu pembentukan badai tropis yang lebih sering dan lebih intens di Samudra Pasifik. Saat ini, satelit Himawari telah mendeteksi lima sistem badai di kawasan tersebut, dua di antaranya berkembang menjadi siklon tropis. Badai-badai tersebut berpotensi memicu banjir di kawasan Amerika, Filipina, hingga negara-negara lintang menengah belahan bumi utara.

Sebaliknya, Indonesia justru diperkirakan mengalami kondisi yang berlawanan. "Indonesia akan menjadi wilayah bayangan hujan (rain shadow) dari Samudra Pasifik, sehingga akan dilanda kekeringan yang semakin meluas dari hari ke hari," tulis Erma.

Proyeksi El Nino ke Depan

Berdasarkan data dari Bureau of Meteorology (BOM) Australia dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), El Nino diproyeksikan terus menguat hingga mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026. Erma mengatakan pemanasan yang terlihat di permukaan laut sebenarnya belum menggambarkan kondisi sesungguhnya. Lapisan bawah permukaan laut, menurutnya, menyimpan panas dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan lapisan permukaan.

"Pemanasan di permukaan Samudra Pasifik tidak ada apa-apanya dibandingkan pemanasan di lapisan bawah permukaan laut yang dua hingga tiga kali lebih panas. Suhu tertingginya bahkan mencapai 9°C," rincinya. Ia menjelaskan bahwa kelebihan panas tersebut pada akhirnya akan berpindah ke permukaan laut, kemudian dilepaskan ke atmosfer.

Karakter El Nino 2026

Menurut Erma, para ilmuwan juga menaruh perhatian besar pada karakter El Nino 2026 yang berkembang sangat cepat atau rapid developing. Ia menyebut sejak Februari 2026 hingga sekarang, intensitas El Nino meningkat sekitar 0,2°C setiap pekan tanpa mengalami pelemahan ataupun stagnasi seperti yang terjadi pada El Nino 2023.

"Kenaikannya terjadi pada skala mingguan sekitar 0,2°C sejak Februari 2026 hingga sekarang. Tidak ada fluktuasi sama sekali seperti pada 2023 yang sempat melemah atau stagnan. Pertumbuhan yang agresif ini menunjukkan 'keganasan' El Nino 2026," sebut Erma.

Antisipasi Super El Nino 2026

Namun, Erma menilai tren yang terlihat saat ini menunjukkan potensi Super El Nino 2026 perlu diantisipasi secara serius karena dapat berdampak pada cuaca ekstrem, kekeringan, dan sektor pangan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau perkembangan El Nino dan melakukan antisipasi yang tepat untuk menghadapi dampak yang mungkin terjadi.