
Mengungkap Rahasia Gulungan Papirus Pompeii Berusia 2.000 Tahun dengan AI
Terobosan Teknologi
Letusan Gunung Vesuvius yang terjadi hampir 2.000 tahun lalu telah mengubur sekumpulan besar gulungan naskah kuno dalam abu vulkanik, membakarnya hingga menjadi gumpalan hitam pekat yang keras. Namun, kini para peneliti berhasil "membaca" dua di antaranya secara virtual dengan menggunakan teknologi canggih, dan menemukan apa yang diduga sebagai karya seorang filsuf Stoik terkenal.
Terobosan ini berasal dari Vesuvius Challenge, sebuah upaya riset internasional untuk membaca gulungan-gulungan naskah yang terawetkan ketika Pompeii dan Herculaneum terkubur abu serta batu apung pada tahun 79 Masehi. Para papirolog, yaitu ilmuwan yang mempelajari dan melestarikan naskah-naskah kuno, mengumumkan bahwa mereka berhasil "membuka" secara digital bagian gulungan yang tersisa dari naskah bernomor PHerc. 1667.
Penemuan Penting
Menurut Brent Seales, salah satu pendiri Vesuvius Challenge sekaligus ilmuwan komputer di University of Kentucky, "Selama hampir dua milenium, banyak naskah ini secara fisik terawetkan tapi secara intelektual tidak bisa diakses." Seales dan timnya menggunakan synchrotron untuk melakukan rontgen ke dalam gulungan dan mendeteksi tinta yang digunakan oleh orang Romawi kuno untuk menulis. Huruf-huruf yang terdeteksi kemudian dipelajari oleh para papirolog yang menerjemahkan teksnya.
Federica Nicolardi, papirolog dari University of Naples Federico II, mengatakan bahwa "Sebagian dari PHerc. 1667 sebenarnya pernah dibuka secara fisik pada 1980-an, tapi lapisan-lapisan yang saling tumpang tindih membuat tulisannya begitu sulit dibaca sehingga gulungan ini diberi skor keterbacaan nol." Tulisan tangan dan gaya teks dalam PHerc. 1667 mengindikasikan bahwa gulungan ini berasal dari abad kedua atau ketiga sebelum Masehi, menjadikannya salah satu gulungan tertua dalam koleksi Herculaneum.
Atribusi dan Signifikansi
Para ahli menduga teks ini lebih menyerupai risalah Stoik tentang etika dan perilaku manusia, dan secara spesifik menyebut nama Aristocreon, keponakan sekaligus murid dari filsuf Stoik berpengaruh, Chrysippus. Sangat sedikit tulisan asli Chrysippus yang berhasil bertahan hingga kini. Jika atribusi ini terbukti benar, temuan ini akan menjadi tambahan yang signifikan bagi catatan sejarah pemikiran Stoik awal.
Dalam penemuan terpisah, para peneliti mengidentifikasi judul buku baru di dalam gulungan PHerc. 139. Bagian akhir gulungan ini merujuk pada buku kedelapan karya Philodemus berjudul "On Gods" atau Tentang Para Dewa. Meski risalah ini sebelumnya sudah diketahui keberadaannya, penemuan baru ini mengungkap bahwa karya tersebut ternyata terbentang setidaknya hingga delapan jilid.
Potensi dan Masa Depan
Lebih dari 600 gulungan Herculaneum hingga kini masih belum dibuka. Vila tempat gulungan-gulungan ini ditemukan diyakini dulunya dimiliki oleh ayah mertua Julius Caesar, menambah lapisan misteri tentang siapa sebenarnya yang menyimpan koleksi naskah filsafat sebanyak ini di rumahnya. Dengan teknologi yang terus berkembang, ratusan gulungan yang tersisa berpotensi menyimpan lebih banyak lagi karya-karya kuno yang selama ini dianggap hilang selamanya, terkubur dalam abu yang sama yang pernah menghancurkan kehidupan di Pompeii dan Herculaneum hampir dua ribu tahun lalu.