Coercive Control dalam Hubungan: Mengenal Kekerasan Psikologis yang Menghancurkan

Coercive Control dalam Hubungan: Mengenal Kekerasan Psikologis yang Menghancurkan

Published:

Coercive Control: Kekerasan Psikologis yang Tidak Terlihat

Kasus penyekapan di Bandung baru-baru ini telah menyentak perhatian publik. Namun, di balik kasus yang terlihat ekstrem itu, ada sebuah pola yang jauh lebih umum dan sering kali tidak terlihat: kekerasan yang tidak meninggalkan bekas fisik apa pun, namun perlahan menghancurkan seseorang dari dalam. Coercive control, atau kontrol koersif, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ini.

Definisi Coercive Control

Menurut Dr. Yulina Eva Riany, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, coercive control adalah "pola perilaku manipulatif, intimidatif, dan ancaman yang membuat korban perlahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan." Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban.

Bentuk-Bentuk Coercive Control

Konsep coercive control bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti mengisolasi korban dari keluarga dan teman, mengontrol komunikasi dan media sosial, membatasi aktivitas sehari-hari, mengatur keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting, yaitu membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.

Bahaya Coercive Control

Yang membuat coercive control begitu berbahaya adalah sifatnya yang bertahap. Perilaku-perilaku ini kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang, sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan. Banyak orang bertanya: mengapa korban tidak meninggalkan hubungan yang jelas-jelas tidak sehat? Namun, pertanyaan yang lebih tepat adalah "Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?"

Mengapa Korban Bertahan

Menurut Dr. Yulina, korban sering menghadapi ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan sosial. Secara psikologis, ada beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa korban bertahan, seperti ketergantungan emosional dan tekanan psikologis. Keduanya bukan kelemahan karakter, melainkan respons psikologis terhadap situasi yang sangat menekan.

Tanda-Tanda Coercive Control

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain rasa cemburu dan posesif yang berlebihan, mengontrol pergaulan, meminta akses penuh terhadap ponsel dan media sosial, meremehkan pasangan, membuat pasangan terus merasa bersalah, menggunakan ancaman emosional, melakukan gaslighting, serta love bombing yang kemudian berubah menjadi perilaku mengontrol. Korban sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut berkembang sedikit demi sedikit dan dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian.

Dampak Coercive Control

Kekerasan psikologis tidak bisa dianggap remeh hanya karena tidak meninggalkan memar atau luka. Korban berisiko mengalami stres kronis, depresi, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder atau PTSD. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang coercive control dan memberikan dukungan kepada korban kekerasan psikologis.