
Hujan Meteor Ganda 31 Juli, Fenomena Langka yang Bisa Dilihat dari Indonesia
Introduction
Hujan meteor Delta Aquarida selatan dan Alfa Capricornida merupakan dua hujan meteor periodik yang muncul setiap tahun pada rentang waktu yang sama. Keduanya dinamai berdasarkan rasi bintang tempat titik asal meteor-meteornya berada, yakni Aquarius dan Capricornus.
Puncak Hujan Meteor
Puncak kedua hujan meteor ini akan terjadi malam ini dan besok. Menurut Marufin Sudibyo, astronom amatir dari Eklipstika, "Delta Aquarida selatan terjadi pada rentang waktu 12 Juli hingga 23 Agustus dengan puncaknya pada 30 atau 31 Juli. Sedangkan hujan meteor Alfa Capricornida terjadi pada rentang waktu 7 Juli hingga 15 Agustus, dengan puncak pada 30 atau 31 Juli."
Asal Usul Hujan Meteor
Marufin menjelaskan, meski memuncak bersamaan, kedua hujan meteor punya sumber yang sama sekali berbeda. Delta Aquarida selatan berasal dari remah komet Machholz (96P), komet berperiode pendek 5,3 tahun dengan orbit sangat lonjong. Sementara itu, Alfa Capricornida berasal dari komet NEAT (169P), komet berperiode 4,2 tahun yang akan melintas dekat Bumi pada September 2026.
Kecepatan Meteor
Meteor-meteor Delta Aquarida selatan memasuki atmosfer pada kecepatan 46 km/detik, sedangkan meteor-meteor Alfa Capricornida memasuki atmosfer pada kecepatan relatif rendah, yakni 'hanya' 23 km/detik, ujar Marufin.
Intensitas Hujan Meteor
Kedua hujan meteor ini tergolong tidak deras. Intensitas maksimum Delta Aquarida selatan hanya 25 meteor/jam, sedangkan Alfa Capricornida cuma 5 meteor/jam. Marufin menyebut Alfa Capricornida sebagai hujan meteor "muda" yang baru terbentuk 3.500-5.000 tahun lalu.
Prediksi Masa Depan
Marufin menyatakan, "Mayoritas debu dari produk pemecahan tersebut baru akan bersinggungan dengan orbit Bumi pada 2 abad mendatang, tepatnya di antara tahun 2220-2240." Saat itulah Alfa Capricornida diprediksi menjadi badai meteor dengan intensitas lebih dari 1.000 meteor/jam.
Pengamatan Hujan Meteor
Seluruh wilayah Indonesia berkesempatan sama menyaksikan fenomena ini, dari tengah malam hingga dini hari jelang subuh, tanpa perlu teleskop atau binokular. Namun cahaya Bulan pasca purnama menjadi tantangan besar: intensitas yang terlihat bisa "hanya separuhnya" untuk Delta Aquarida selatan, dan cuma 1-2 meteor/jam untuk Alfa Capricornida.
Tip Pengamatan
Marufin menyarankan, pengamat beradaptasi di tempat gelap minimal 30 menit, menghindari cahaya putih, dan bila perlu menggunakan lampu senter berlapis kertas minyak merah. "Jakarta dan Jabodetabek pada umumnya tidak memungkinkan pengamatan ini," ungkap Marufin, merujuk pada polusi cahaya yang sudah parah di kawasan tersebut.