
Bayi Manusia Purba: Selemah Bayi Kita?
Merawat Bayi yang Baru Lahir
Merawat bayi yang baru lahir adalah tugas yang berat dan melelahkan, tidak hanya bagi orangtua modern, tetapi juga bagi leluhur manusia yang telah lama punah. Manusia lahir ke dunia dalam kondisi jauh kurang berkembang dibandingkan kera besar lainnya, dengan otot leher yang lemah, tengkorak yang lunak, dan otak yang masih terus berkembang pesat setelah kelahiran.
Menurut Yousuke Kaifu, seorang antropolog dari University Museum, University of Tokyo, "Metode kami mencari perubahan bentuk kranium yang terjadi sekitar atau segera setelah kelahiran dan tetap bertahan hingga dewasa." Kaifu menjelaskan bahwa kondisi ini umum ditemukan dan disebut deformational plagiocephaly, yang dipengaruhi oleh posisi bayi yang sering sama saat digendong atau dibaringkan, serta otot leher bayi yang masih terlalu lemah untuk mengontrol posisi kepalanya.
Teori Obstetrical Dilemma
Salah satu teori yang mencoba menjelaskan keterlambatan perkembangan ini disebut obstetrical dilemma atau dilema obstetrik. Tengkorak lunak dan otak yang belum berkembang sempurna diduga merupakan kompromi evolusioner demi otak besar yang berkembang belakangan, serta kemampuan berjalan tegak yang turut memengaruhi bentuk jalan lahir.
Seorang peneliti lain menjelaskan bahwa, "Kondisi ini sudah berlangsung sejak lebih dari satu juta tahun lalu, dan bukan hanya terjadi pada manusia modern, tetapi juga pada leluhur manusia yang telah lama punah." Penelitian ini menunjukkan bahwa bayi manusia purba juga memiliki kondisi yang sama dengan bayi manusia modern, yaitu tengkorak yang lunak dan otot leher yang lemah.
Penelitian Baru
Pendekatan baru dalam studi ini bisa diterapkan pada fosil dari usia berapa pun dan berpotensi menambah kepingan penting dalam teka-teki evolusi manusia. Kaifu mengatakan bahwa, "Ide penelitian ini bermula pada 2007, ketika saya berada di Indonesia dan melihat kerangka Homo floresiensis, spesies manusia purba yang juga dijuluki 'hobbit', yang hidup lebih dari 50.000 tahun lalu."
Ia terkejut melihat bentuk tengkorak yang mengalami deformasi, yang tampaknya terjadi setelah kelahiran akibat struktur tulangnya. Kaifu kemudian menduga bahwa kondisi ini bisa menjadi indikator ketidakberdayaan pada masa bayi. Kepala yang peyang pada kerangka mengindikasikan tengkorak yang lunak dan belum berkembang, serta kemungkinan ketidakmampuan bayi menggerakkan kepalanya sendiri.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa bayi manusia purba memiliki kondisi yang sama dengan bayi manusia modern, yaitu tengkorak yang lunak dan otot leher yang lemah. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lebih dari satu juta tahun lalu dan bukan hanya terjadi pada manusia modern, tetapi juga pada leluhur manusia yang telah lama punah. Penelitian ini berpotensi menambah kepingan penting dalam teka-teki evolusi manusia dan membantu kita memahami lebih baik tentang sejarah evolusi manusia.