Wabah Ebola di Afrika: Ancaman yang Mengkhawatirkan

Wabah Ebola di Afrika: Ancaman yang Mengkhawatirkan

Published:

Wabah Ebola di Afrika Tengah

Wabah Ebola di Afrika Tengah telah ditetapkan sebagai "kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hingga 22 Mei, lebih dari 800 kasus Ebola dilaporkan di Republik Demokratik Kongo (DRC), termasuk lebih dari 180 kematian. Selain itu, terdapat dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian di Uganda, khususnya pada individu yang baru saja bepergian ke DRC.

Penyebab Wabah Ebola

Virus Ebola atau Zaire ebolavirus adalah penyebab umum di balik berbagai wabah dan kematian akibat penyakit Ebola. Terdapat dua virus lain yang diketahui memicunya yaitu: virus Sudan dan virus Bundibugyo. Virus terakhir yang memicu wabah saat ini. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan "Menurut pandangan kami, skala dan kecepatan epidemi ini menuntut tindakan mendesak".

Tantangan dalam Penanganan Wabah Ebola

Tidak ada vaksin efektif virus Bundibugyo walau terdapat vaksin Ebola yang disetujui. Dr. Madeline DiLorenzo dari Tisch Hospital, New York University (NYU) Langone, mengatakan "Namun, vaksin tersebut khusus Zaire ebolavirus yang secara historis memicu wabah lebih banyak dibanding virus Bundibugyo". Zaire ebolavirus dan virus Bundibugyo secara genetik berbeda, hanya berbagi sekitar 60% hingga 70% materi genetik. Maka vaksin yang menargetkan virus Zaire kemungkinan takkan banyak membantu.

Diagnosis dan Penanganan Wabah Ebola

Penyakit Ebola bisa sulit dideteksi pada tahap awal karena gejala pertamanya cukup umum seperti demam dan sakit tenggorokan. Gejalanya muncul dua hingga 21 hari setelah terpapar. Dr. Jill Weatherhea dari Baylor College of Medicine, mengatakan "Namun, tes ini tidak tersedia luas untuk virus Bundibugyo, sehingga menyulitkan diagnosis dan akhirnya menghambat penanggulangan".

Strategi Penanganan Wabah Ebola

Selain tantangan diagnostik, tidak ada perawatan antivirus spesifik untuk virus Bundibugyo. Memang ada antibodi laboratorium yang disetujui untuk Zaire ebolavirus tapi perawatan serupa untuk virus Bundibugyo belum berkembang. Di tengah ketiadaan vaksin dan perawatan medis, strategi seperti mengarantina orang terinfeksi menjadi penting. Dokter yang merawat juga diwajibkan mengikuti protokol ketat.

Infrastruktur Kesehatan di DRC

Infrastruktur kesehatan di DRC kini lumpuh. Episentrum wabah ini adalah provinsi Ituri yang dilanda konflik bersenjata beberapa dekade, sehingga sistem kesehatannya lemah. Pemotongan bantuan asing membuat situasi memburuk. Dr. Manenji Mangundu, direktur Oxfam untuk DRC, mengatakan "USAID dulu donor utama DRC dan banyak organisasi kemanusiaan mengandalkan dananya guna memberi dukungan vital di negara yang hancur oleh konflik itu".

Respons Komunitas Internasional

Dalam situasi semacam ini, bisa sulit meyakinkan masyarakat agar bersedia menerapkan standar keselamatan guna menekan penyebaran Ebola. Maka, respons komunitas internasional akan menentukan. Dr. Manenji Mangundu mengatakan "Kita benar-benar harus menyalurkan dana bantuan kemanusiaan serta memberikan sokongan moral penuh kepada rakyat DRC pada momentum kritis ini, sebelum sebuah krisis yang seharusnya dapat dicegah berubah wujud menjadi bencana mengerikan berskala global".