
Rotasi Charon, Bulan Pluto, Dulu Jauh Lebih Kencang
Charon dan Pluto: Tarian Angkasa Unik
Charon dan Pluto terikat dalam sebuah tarian angkasa yang unik, di mana keduanya bergerak mengelilingi satu titik yang berada tepat di atas permukaan Pluto. Interaksi ini telah menyebabkan perubahan besar pada Charon, yaitu memperlambat putaran bulan tersebut secara drastis.
Gaya Pasang Surut dan Rotasi
Gaya pasang surut antara dua benda langit yang saling berdekatan dapat mengubah kecepatan rotasi keduanya secara signifikan. Hal serupa pernah terjadi pada Bumi dan Bulan, dan para ilmuwan menduga fenomena yang sama juga terjadi pada Charon. Para peneliti meyakini bahwa bukti dari fenomena ini bisa ditemukan pada fitur-fitur geologis Charon.
Fitur Geologis Charon
Fitur-fitur di permukaan Charon dinamai berdasarkan tempat, kapal, atau penjelajah dalam cerita fiksi dan mitologi, sehingga bintik merah di kutub utaranya disebut Mordor Macula. Namun untuk penelitian ini, perhatian tertuju pada kawasan bernama Oz Terra. Permukaan Charon tidak banyak berubah selama 4 miliar tahun terakhir, sehingga ia menyimpan jejak kondisi bulan tersebut saat pertama kali terbentuk.
Pegunungan di Oz Terra
Pegunungan di kawasan Oz Terra membentang sepanjang lebih dari 200 kilometer dan menunjukkan lereng yang tidak simetris, sebuah petunjuk bahwa pegunungan tersebut pernah mengalami kompresi. Para peneliti menggunakan model untuk menghitung bahwa lapisan es setebal setidaknya 30 hingga 36 kilometer sudah ada sejak Charon terbentuk.
Rotasi Awal Charon
Pada masa-masa awal keberadaannya, kerak di wilayah ekuator bulan tersebut memendek sekitar 1 persen akibat putaran Charon sendiri. Pemendekan inilah yang menjadi penyebab munculnya punggungan-punggungan yang terlihat di Oz Terra. "Sejarah geologis Charon sebelumnya diduga mengalami peregangan global. Dalam studi ini, selain fitur-fitur peregangan, kami juga mengidentifikasi kemungkinan adanya bentang alam kompresi," kata Hanzhang Chen, penulis utama studi ini.
Model Rotasi Charon
Model yang digunakan para peneliti menunjukkan bahwa Charon awalnya berputar pada porosnya dengan kecepatan sekitar 14,3 jam per rotasi. Angka ini lebih dari 10 kali lebih cepat dibanding kondisinya saat ini, yang berputar sekitar 153,3 jam per rotasi. Bukti dari kecepatan rotasi awal ini tetap tersimpan pada permukaannya yang nyaris tidak berubah.
Pendekatan Baru untuk Memahami Rotasi
Pendekatan ini berpotensi digunakan untuk memahami sejarah rotasi objek-objek lain di tata surya. Permukaan benda-benda langit tersebut mungkin menyimpan lebih banyak wawasan, selama benda tersebut tidak terlalu aktif secara geologis. "Meski Charon tidak seaktif dan secerah Pluto, ia tetap merekam informasi tentang awal mula tata surya," kata Chen.
Kesimpulan
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan menawarkan pendekatan baru untuk menyimpulkan kondisi awal satelit-satelit es dari catatan geologisnya. Penemuan ini dapat membantu kita memahami sejarah rotasi objek-objek lain di tata surya dan memberikan wawasan tentang awal mula tata surya.