Pedang Langit, Pohon Tertinggi Asia Timur yang Menyentuh Bulan

Pedang Langit, Pohon Tertinggi Asia Timur yang Menyentuh Bulan

Published:

Penemuan yang Mengagumkan

Pedang Langit, pohon tertinggi di Asia Timur, telah ditemukan tersembunyi di lembah terpencil di Taiwan. Pohon cemara raksasa ini, yang diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun, memiliki tinggi 84,1 meter dan merupakan salah satu pohon tertinggi di dunia.

Peneliti yang gigih telah bekerja selama satu dekade untuk mengidentifikasi pohon ini, yang dinamai "Pedang Langit dari Sungai Da'an" sebagai penghormatan terhadap senjata legendaris dari novel fiksi bela diri karya Jin Yong. Masyarakat adat Rukai yang mendiami pegunungan selatan pulau tersebut menyebut spesies Taiwania cryptomerioides ini dengan julukan pohon yang menyentuh bulan.

Keunikan Taiwan

Taiwan merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati tumbuhan yang luar biasa, dengan hutan menutupi sekitar 60% daratannya. Sekelompok pencari pohon di Taiwan, yang terdiri dari pemanjat profesional, ahli ekologi, ahli geologi, dan spesialis penginderaan jauh, telah bekerja sejak tahun 2014 untuk mendokumentasikan pohon-pohon tertinggi di pulau itu.

Mereka melakukan survei pemindaian udara selama bertahun-tahun, menyusun Peta Pohon Raksasa Taiwan, serta meminta masukan dari para ilmuwan warga. Akhirnya, mereka berhasil mengidentifikasi Pedang Langit dengan cara konvensional yaitu dengan memanjat pohon raksasa itu dan menjatuhkan pita pengukur dari bagian atasnya.

Lingkungan yang Ideal

Hujan melimpah serta iklim stabil menjadikan Taiwan salah satu dari sedikit lingkungan di Bumi yang mampu menopang pertumbuhan pohon-pohon tua raksasa secara berkelanjutan selama ratusan hingga ribuan tahun, kata penulis utama studi, Dr. Rebecca Chia-Chun Hsu dari Institut Penelitian Kehutanan Taiwan.

Penebangan kayu industri yang masif antara tahun 1912 dan 1991 memang menyusutkan sebagian hutan purba Taiwan, tapi medan pulau yang sangat terjal membuat pohon-pohon tua tetap aman dari jangkauan para penebang.

Teknologi dan Kerja Sama

Tim pencari pohon ini pertama kali berkumpul 12 tahun lalu dan menyadari mengidentifikasi pohon tertinggi dari permukaan tanah nyaris mustahil. Kelompok ini memiliki pemanjat pohon tinggi, namun mereka tetap membutuhkan sudut pandang dari atas.

Bermitra dengan pakar penginderaan jauh dari Universitas Nasional Cheng Kung Taiwan, tim menggunakan teknologi lidar yang memungkinkan tim membuat peta 3D yang sangat detail. Saat Taiwan merayakan Tahun Baru Imlek awal 2023, tim memutuskan untuk memusatkan perhatian pada target utama yakni sang pohon tertinggi.

Perjalanan yang Menguras Tenaga

Upaya mencapai lokasi Pedang Langit melibatkan proses berenang dan memanjat bebatuan sejauh 20 kilometer melawan arus sungai, dilanjutkan pendakian bukit terjal dan melelahkan selama dua hari.

"Kami menggunakan drone untuk menginvestigasi pohon sebelum memanjatnya. Namun, cara paling akurat mengukur tingginya tetap menggunakan pita ukur yang dijatuhkan dari atas," tulis Hsu. Ketika pita menunjuk 84,1 meter, Hsu lega luar biasa. Perjalanan menembus pedalaman yang menguras tenaga terbayar lunas.

Penghargaan dari Pakar Kehutanan

Pakar kehutanan Michael Taylor, salah satu penemu pohon Hyperion sekaligus spesialis lidar, memuji dedikasi tim karena bekerja keras mengukur manual. "Kebanyakan justru terlalu mengandalkan angka yang sering meleset karena hanya menggunakan software otomatis tanpa memperhitungkan kemiringan lereng," jelasnya.

Kelompok mereka berhasil merintis jalur baru melintasi bentang alam luar biasa indah namun terisolasi, yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat jika bukan karena pencarian ini.

Pentingnya Pohon-Pohon Raksasa

"Pohon-pohon raksasa umurnya sangat panjang dan mereka menjadi saksi hidup sekaligus penyintas dari berbagai perubahan iklim jangka panjang di planet ini. Kita akan merasa jauh lebih rendah hati ketika kita mengetahui lebih banyak tentang kehidupan rahasia mereka," ujarnya.

Pohon-pohon raksasa memainkan peran ekologis vital di hutan, menyerap karbon dioksida secara masif dan menjaga ekosistem. Namun menurut studi baru, pepohonan raksasa paling rentan terhadap perubahan iklim. Mereka jauh lebih sensitif terhadap bencana kekeringan dan berbagai cuaca ekstrem.