
Nenek Moyang Kita Sudah "Go International" Ribuan Tahun Lalu
Globalisasi Tidak Baru, Nenek Moyang Kita Sudah Melakukannya
Globalisasi sering dianggap sebagai produk modern abad ke-21, namun riset mutakhir mengungkap bahwa kawasan Asia Tenggara, khususnya kepulauan Nusantara, sudah menjadi simpul raksasa yang menghubungkan berbagai benua melalui jaringan migrasi, teknologi canggih, dan perdagangan internasional yang sangat kompleks ribuan tahun lalu.
Webinar Internasional "Connecting Continents and Oceans"
Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Webinar Internasional bertajuk "Connecting Continents and Oceans" yang memetakan bagaimana nenek moyang kita berinteraksi dengan dunia luar sejak zaman prasejarah hingga periode klasik.
Arkeologi Membentuk Dunia Saat Ini
Menurut Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Heri Yogaswara, kajian arkeologi mampu menjembatani berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan mobilitas manusia dan pertukaran budaya yang membentuk dunia saat ini, "Kajian arkeologi mampu menjembatani berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan mobilitas manusia dan pertukaran budaya yang membentuk dunia saat ini," ungkapnya.
Temuan Fosil Homo Erectus di Bumiayu
Salah satu kejutan terbesar dalam evolusi manusia datang dari situs Bumiayu di Pulau Jawa, pakar paleonatropologi Prof. Harry Widianto memaparkan temuan baru fosil Homo erectus yang berhasil menggeser teori sejarah lama, "Temuan ini mengindikasikan kehadiran manusia purba sekitar 1,8 juta tahun lalu, lebih awal dari estimasi sebelumnya.
Migrasi Manusia Purba di Eropa
Pelacakan migrasi manusia purba di Eropa juga mengalami kemajuan pesat, ilmuwan dunia seperti Prof. Tamás Hajdu berhasil mengakalinya dengan menggunakan teknologi isotop strontium pada sisa tulang, hasilnya mereka sukses mendeteksi adanya percampuran populasi masif akibat migrasi lintas wilayah sekitar tahun 1500 SM.
Teknologi Maritim Lokal
Bagaimana manusia zaman dulu bisa bergerak sejauh itu melintasi samudra? Jawabannya ada pada kecanggihan teknologi maritim lokal, peneliti Agni Sesaria Mochtar menyoroti pentingnya tipe kapal tradisional lashed-lug (teknologi ikat-kupingan) yang menjadi tulang punggung pelayaran kuno, dari sekitar 40 situs bangkai kapal kuno yang ditemukan di Asia Tenggara, ternyata lebih dari separuhnya berada di Indonesia.