James Webb Space Telescope Mengukur Lubang Hitam "Raksasa Tidur" 10 Miliar Tahun Cahaya Jauhnya — dan Massanya 6 Miliar Kali Massa Matahari

James Webb Space Telescope Mengukur Lubang Hitam "Raksasa Tidur" 10 Miliar Tahun Cahaya Jauhnya — dan Massanya 6 Miliar Kali Massa Matahari

Published:

Penemuan Lubang Hitam Raksasa Tidur

James Webb Space Telescope (JWST) telah berhasil "mengukur" lubang hitam raksasa tidur yang terletak 10 miliar tahun cahaya jauhnya. Lubang hitam ini merupakan lubang hitam supermasif yang paling jauh yang pernah diukur massanya oleh para ilmuwan. Dengan menggunakan JWST, para astronom telah menemukan bahwa lubang hitam ini memiliki massa yang luar biasa, yaitu 6 miliar kali massa matahari.

Proses Pengukuran Lubang Hitam

Para ilmuwan menggunakan teknik yang disebut dinamika bintang untuk mengukur massa lubang hitam. Mereka melacak gerakan bintang-bintang di pusat galaksi MRG-M0138, yang merupakan galaksi yang dihuni oleh lubang hitam raksasa tidur ini. Teknik ini telah digunakan sebelumnya untuk mengukur massa lubang hitam yang lebih dekat dengan Bumi, tetapi ini adalah pertama kalinya teknik ini digunakan untuk mengukur massa lubang hitam yang terletak sangat jauh.

Gravitasi Lensing

Proses pengukuran massa lubang hitam ini tidaklah mudah. Para ilmuwan harus menggunakan fenomena alam yang disebut gravitasi lensing, yang merupakan hasil dari teori relativitas umum Albert Einstein. Gravitasi lensing terjadi ketika cahaya dari sumber yang jauh melewati objek masif, seperti galaksi atau klaster galaksi, yang terletak di antara sumber cahaya dan Bumi. Cahaya yang melewati objek masif ini akan dibengkokkan, sehingga membentuk gambar yang berbeda dari sumber aslinya.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lubang hitam raksasa tidur ini memiliki massa yang sangat besar, yaitu 6 miliar kali massa matahari. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa galaksi MRG-M0138 sendiri telah berhenti membentuk bintang baru, kemungkinan karena lubang hitam supermasif ini telah menghabiskan gas dan debu yang diperlukan untuk pembentukan bintang. Penelitian ini dapat membantu para ilmuwan memahami hubungan antara pertumbuhan galaksi dan pertumbuhan lubang hitam supermasif, serta peran lubang hitam dalam menghentikan pembentukan bintang di galaksi-galaksi.

Kutipan dari Para Ahli

"Dengan menentukan bagaimana bintang-bintang bergerak di dalam inti galaksi ini, kita dapat mengukur massa lubang hitam supermasif yang tidak terdeteksi," kata Richard Ellis, pemimpin tim penelitian dan ilmuwan dari University College of London. "Dengan menunjukkan kemungkinan teknik ini untuk galaksi-galaksi di awal alam semesta, kita dapat melakukan sensus yang lebih lengkap tentang bagaimana lubang hitam berkembang seiring waktu dan memahami peran mereka dalam membentuk evolusi galaksi."

"Dengan menggabungkan data JWST dengan gravitasi lensing, kita dapat melihat ke dalam lingkungan lubang hitam, di mana gravitasi meningkatkan kecepatan bintang-bintang," kata Andrew Newman dari Carnegie Science di Pasadena, California. "Ini adalah salah satu teknik terbaik yang kita miliki untuk mengukur massa lubang hitam, sehingga kita sangat bersemangat untuk memperluasnya ke periode yang lebih awal dalam sejarah kosmik."