
El Nino 2026: Faktor Tersembunyi di Balik Dampaknya di Indonesia
El Nino: Fenomena Iklim yang Berdampak Besar
El Nino 1997 dan 2015 adalah dua contoh nyata bagaimana fenomena iklim ini berdampak pada Indonesia. Keduanya sama-sama kuat jika dilihat dari angka anomali suhu di Samudra Pasifik. Namun, dampaknya bagi Indonesia sangat berbeda. El Nino 1997-1998 meninggalkan luka panjang, seperti kekeringan parah, kebakaran hutan masif di Kalimantan dan Sumatera, hingga kabut asap yang menyeberangi batas negara.
Menurut Eddy Hermawan, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jawaban atas perbedaan dampak El Nino ini tidak terletak di Samudra Pasifik, melainkan di Samudra Hindia. "Yang mengendalikan dinamika atmosfer Indonesia itu adalah IOD, bukan Nino 3.4. Setinggi apapun Nino 3.4, di mana IOD-nya tidak ikut mendukung, gagal dia," kata Eddy.
Faktor Tersembunyi: IOD
IOD (Indian Ocean Dipole) adalah faktor tersembunyi yang mempengaruhi dampak El Nino di Indonesia. Pada Oktober 1997, anomali suhu di kawasan Nino 3.4 mencapai 2,4, yang sudah masuk kategori sangat tinggi. Namun, yang membuat 1997 menjadi bencana bagi Indonesia adalah IOD yang ikut melonjak ke angka 1,8 di bulan yang sama. "Kalau di situ digabung, sekitar 4 koma berapa. Jadi kuat sekali," kata Eddy.
Bandingkan dengan 2015, Nino 3.4 juga menyentuh 2,4, namun IOD hanya berada di 0,8. Kombinasi yang jauh lebih lemah. Hasilnya, meski El Nino 2015 tetap terasa di Indonesia, dampaknya tidak sampai mereplikasi bencana 1997.
Prakiraan untuk 2026
Untuk 2026, data terkini justru memberi gambaran yang lebih menenangkan. Berdasarkan pemantauan dari Poama—lembaga prakiraan iklim Australia—dan JAMSTEC, Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology, IOD diperkirakan berada di fase normal-netral hingga akhir tahun. Nilainya berkisar antara 0,4 hingga 0,5—jauh dari ambang batas yang diperlukan untuk memperparah dampak El Nino secara signifikan di Indonesia.
"IOD berdasarkan prediksi dari pihak Poama Australia, dia berada di fase nyaman hingga akhir tahun. Dia tidak ikut-ikutan. Masih bermain hanya di 0,5, 0,4. Fase normal netral. Tidak ada indikasi kalau dia akan mendukung El Nino," jelas Eddy. JAMSTEC juga mengeluarkan simulasi yang senada: IOD diperkirakan tetap di fase normalnya setidaknya hingga akhir 2026.
Kesimpulan
Kesimpulannya, kekuatan El Nino di Pasifik hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya ditentukan oleh apa yang terjadi di Samudra Hindia tepat di sebelah barat Indonesia. Dengan IOD yang diperkirakan berada di fase normal-netral hingga akhir tahun, dampak El Nino 2026 di Indonesia tidak diharapkan akan separah tahun 1997.