
Bekicot dan Keong: Mengenal Perbedaan dan Pentingnya Pengelolaan Koleksi Ilmiah
Perbedaan Bekicot dan Keong
Banyak orang salah menganggap bahwa semua keong adalah bekicot. Namun, menurut Periset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ayu Savitri Nurinsiyah, bekicot hanyalah salah satu jenis keong. "Bekicot adalah keong, tapi keong belum tentu bekicot," kata Ayu. Ia menjelaskan bahwa keong (Amphidromus javanicus) merupakan spesies endemik Pulau Jawa, sedangkan bekicot (Lissachatina fulica) adalah spesies asing invasif yang sudah masuk dalam daftar 100 spesies invasif paling membahayakan di dunia.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan reproduksi bekicot yang sangat cepat, karena hewan ini bersifat hermafrodit atau memiliki dua organ kelamin dalam satu tubuh. Ayu menambahkan bahwa bekicot pertama kali didatangkan ke Indonesia sekitar tahun 1900-an, kemudian masuk secara masif pada sekitar 1940-an saat masa penjajahan Jepang untuk dibudidayakan.
Pengelolaan Koleksi Ilmiah
Pelatihan Koleksi dan Identifikasi Gastropoda yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN secara daring melalui Zoom Meeting, membahas tentang teknik pengumpulan hingga identifikasi spesimen keong atau gastropoda di Nusantara. Ayu menjelaskan bahwa terdapat beberapa metode koleksi gastropoda, namun yang paling banyak digunakan adalah time-search, visual search, atau direct collection, yang dilakukan menggunakan pinset atau langsung dengan tangan.
Menurut Ayu, sebaiknya pada saat di lapangan, beberapa metode pengoleksian lebih baik digabungkan, karena persediaan waktu dan dana yang terbatas. Selain metode pengoleksian, Ayu juga memaparkan teknik preservasi untuk koleksi mati atau hanya cangkang, dan koleksi hidup berupa cangkang lengkap dengan badannya. Cangkang berukuran besar dapat dibersihkan menggunakan air dan sikat gigi berbulu halus, sementara cangkang kecil dibersihkan dengan bantuan ultrasonografi.
Identifikasi Keong
Ayu menekankan bahwa identifikasi keong tidak hanya bisa dilakukan lewat ekspedisi dan eksplorasi lapangan, tapi juga melalui studi spesimen di museum. Studi literatur juga menjadi bagian penting karena menjadi rujukan dalam mengidentifikasi spesies dalam koleksi, mengingat literatur terdahulu umumnya memuat deskripsi, ukuran, serta data lokasi suatu spesies.
Ia juga menegaskan pentingnya pengelolaan museum, baik museum pameran maupun museum koleksi ilmiah. Menurutnya, museum koleksi ilmiah harus dikelola dengan baik agar koleksi keong tetap bisa dimanfaatkan untuk penelitian di masa mendatang. "Kita tidak tahu 50 atau 100 tahun kemudian habitat keong sudah punah. Karena itu, museumlah tempat menyimpan spesimen secara baik," tegas Ayu.
Kesimpulan
Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas data ilmiah keanekaragaman hayati Indonesia, sekaligus menjadi panduan praktis bagi para penggiat taksonomi dalam mengurasi spesimen gastropoda secara profesional. Dengan demikian, diharapkan dapat membantu melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan koleksi ilmiah.