
Bayi Tabung, Harapan Terakhir Badak Kalimantan dari Kepunahan
Badak Borneo: Kondisi Kritis
Di hutan berbukit di Pulau Kalimantan, badak Sumatera masih berjuang mempertahankan kelangsungan hidupnya. Namun, untuk subspesies badak Borneo, situasinya jauh lebih genting. Perburuan liar dan kehilangan habitat berskala besar telah mereduksi populasinya hingga hanya tinggal dua individu yang diketahui keberadaannya.
Sisa Hidup Badak Borneo
Satu betina bernama Pari masih hidup liar di hutan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Satu lagi bernama Pahu berada di penangkaran di Suaka Badak Kelian, di kabupaten yang sama. Kondisi ini semakin kritis karena tidak adanya satupun pejantan yang diketahui masih hidup. Tanpa pejantan, reproduksi alami mustahil terjadi, dan kepunahan hanya tinggal menunggu waktu.
Bayi Tabung: Harapan Terakhir
Karena badak Borneo dan badak Sumatera memiliki kekerabatan genetis yang sangat dekat, para konservasionis berencana membuahi sel telur Pari dengan sperma dari pejantan badak Sumatera. Melalui persilangan antar subspesies ini, sebagian keragaman genetis dari betina Borneo yang tersisa diharapkan bisa dipertahankan untuk generasi berikutnya.
Teknis Bayi Tabung
Ari Wibawanto, kepala badan konservasi provinsi Kalimantan Timur, menjelaskan bahwa "badak Sumatera lebih besar dari badak Borneo. Jika kita mencoba mengawinkan mereka secara manual atau melalui perkawinan alami biasa, kemungkinan besar hal itu tidak akan berjalan dengan baik." Maka, mereka akan mengambil sel telur dari badak Borneo, mengumpulkannya, lalu membuahinya dengan sperma dari badak Sumatera di luar rahim. Setelah embrio terbentuk, kemungkinan besar akan digunakan badak betina lain sebagai induk pengganti untuk proses transfer embrio dan kehamilan.
Pelajaran dari Tragedi
Pada 2025, seekor badak Jawa bernama Musofa mati setelah translokasi pertama di dunia untuk spesies tersebut. Pada 2016, seekor betina badak Sumatera juga meninggal setelah proses relokasi. Dalam kedua kasus tersebut, kematian dikaitkan dengan cedera atau kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Pelajaran dari tragedi-tragedi itu kini dijadikan landasan untuk memperkuat prosedur penanganan.
Prosedur Penanganan
Wibawanto menjelaskan bahwa "kami memperkuat prosedur kami untuk memastikan tidak ada masalah teknis, masalah kesehatan, atau masalah perilaku, sehingga hewan tidak mengalami stres." Mereka berharap bahwa dengan prosedur yang lebih kuat, mereka dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan program bayi tabung.
Nasib Badak Borneo
Nasib badak Borneo bukanlah kisah yang berdiri sendiri di dunia konservasi. Badak putih utara menghadapi situasi yang sangat serupa: hanya dua betina yang tersisa, dan keduanya tidak mampu menjalani kehamilan hingga cukup bulan. Upaya panjang dan berliku itu menjadi pengingat bahwa jalan menuju keberhasilan IVF pada badak sangatlah terjal, namun juga satu-satunya jalan yang tersisa.
Harapan untuk Masa Depan
Bayi tabung menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan badak Borneo dari kepunahan. Dengan teknologi yang lebih maju dan prosedur penanganan yang lebih kuat, mereka berharap dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan program bayi tabung. Mereka juga berharap bahwa dengan upaya ini, mereka dapat mempertahankan keragaman genetis badak Borneo dan memastikan kelangsungan hidup spesies ini.